Minggu, 10 April 2022

Mandailing Bukan Batak

Sudah menjadi rahasia umum jika rakyat Mandailing tidak suka jika disebut bagian dari suku batak. Sebagian besar warga Mandailing bahkan dengan tegas menolak pernyataan bahwa Mandailing semupakan bagian dari Batak. Bahkan pada tahun 2017 sejumlah Raja Panusunan di Mandailing Natal bersama belasan organisasi mencuatkan penegasan bahwa Mandailing bukan Batak.


Sumber Gambar: Al Hasan Nasution_ www.mandailingonline.com

Mandailing Sebagian besar rakyat Mandailing Natal menegaskan jika Mandailing bukan sub-etnis Batak. Mereka meyakini jika Mandailing adalah etnis sendiri yang tidak dapat dikaitkan dengan etnis lain termasuk Batak. Masyarakat Mandailing bahkan membuat petisi yang disusun dalam pertemuan Raja-raja Panusunan dan organisasi kemasyarakatan itu berlangsung di Sopo  Godang Kota Siantar, Panyabungan, Mandailing Natal pada Sabtu, 21 Oktober 2017.

Raja-raja yang menghadiri pertemuan ini, antara lain Tuan Mangaraja Sian Nasution, Sutan Parluhutan Nasution, Patuan Mandailing Nasution, Baginda Mangaraja Sualoon Nasution, Baginda Batang Taris, Mangaraja Porkas, dan lainnya. Selain dihadiri para raja, pertemuan ini juga dihadiri beberapa organisasi masyarakat, seperti Naposo Nauli Bulung, KNPI, HMI, Karang Tarunan, dan ORMAS lainnya.

Petisi ini berisi penegasan bahwa Mandailing tidak memiliki kaitan dengan Batak, baik secara kebudayaan maupun sosiokultural. Petisi ini juga berisi permintaan agar pemerintah dan instansi negara maupun instansi swasta agar tidak mengaitkan Mandailing dengan Batak.

Menurut mereka, Mandailing tak bisa disebut Batak, karena Mandailing sudah memiliki peradaban dan kebudayaan yang luhur sejak sebelum abad 13 Masehi. Alasan lainnya adalah bahwa masyarakat Madina beranggapan jika Batak merupakan proyek kolonialisme Belanda. Seperti yang diungkapkan oleh Tan Gozali, selaku Ketua DPD KNPI Madina, sekaligus Ketua Tim Inisiator Mandailing Bukan Batak

“Mandailing bukan Batak. Batak itu proyek kolonialisme Belanda yang identik dengan Kristen dari Suku Toba. Sedangkan Mandailing adalah muslim,” Ungkapnya saat diwawancarai pada 6 April 2022.

Permintaan pemuka pemuka etnis Mandailing itu dituangkan dalam Surat Penolakan tanggal 11 Februari 2020 ditujukan kepada Badan Pusat Statistik Republik Indonesia (BPS RI). Petisi itu akhirnya diterima. Kepala BPS RI, Dr. Suhariyanto menyatakan bahwa untuk SP2020 ini sebutan Mandailing telah menggantikan sebutan Batak Mandailing. Dengan disetujuinya petisi tersebut, Mandailing resmi berdiri sendiri. Artinya, Mandailing bebas dari embel-embel ‘Batak’.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenal Kopi Mandailing Bersama SMK 1 Ulu Pungkut

Mandailing Natal — Kopi Mandailing adalah salah satu jenis kopi populer asli Indonesia. Bukan hanya di Indonesia, kopi yang menjadi primadon...