Mandailing Natal— Selain memiliki bahasa tradisional, Mandailing Natal juga memiliki aksara tradisional. Aksara tradisional ini disebut juga dengan Surat Tulak-Tulak. Tidak semua daerah di Indonesia memiliki aksara sendiri, aksara Mandailing masuk ke dalam 7 jenis aksara yang ada di Indonesia.
![]() |
| Aksara tulak-tulak Sumber: www.mandailingonline.com |
Surat tulak-tulak biasanya digunakan untuk ilmu perdukunan, ilmu nujum, surat-menyurat dan ratapan. Aksara ini merupakan metamorfosis dari huruf Pallawa. Berdasarkan penelitian para ahli sejarah dan antropolog, Aksara Tulak-Tulak ini menyebar dari selatan (Mandailing) ke arah utara (Toba). Aksara Tulak-Tulak biasanya dituliskan pada lembaran kulit kayu alim (pustaha laklak) dan juga beberapa media lain seperti bambu.
Ada 21 jenis huruf dalam Aksara Mandailing yang dikelompokkan ke dalam sebutan Ina ni Surat. Selain Ina ni Surat, aksara ini juga dikelompokkan menjadi Anak ni Surat.
Ina ni Surat
![]() |
| Ina ni surat Sumber: www.mandailingonline.com |
Anak ni Surat

Anak ni surat
Sumber: www.mandailingonline.com
Anak ni Surat digunakan untuk mengubah vokal [a] bervariasi menjadi bunyi vokal [i], [e], [o], dan [u]. Selain itu juga pembentuk bunyi [-ng] dan bunyi konsonan.
Proses pembentukan kata dapat dilakukan dengan menggabungkan Ina ni surat dan juga anak ni surat. Selain itu, Aksara Tulak-tulak juga menggunakan huruf pangolat yang ditandai dengan simbol . Huruf ini berfungsi untuk membuat bunyi konsonan atau huruf mati di akhir suku kata. Pangolat juga berfungsi untuk menghilangkan bunyi “a” pada Ina Ni Surat digunakan tanda pangolat “ \ ”.
Pada aksara tulak-tulak juga ada ‘Bindu’ dan ‘Tompi’. Bindu merupakan Sebuah ornamen yang menandai awal sebuah alinea atau BAB. Bindu kecil dipakai untuk menandai awal sebuah alinea, sedangkan bindu besar terdapat pada awal sebuah atau BAB baru. Sedangkan tompi berfungsi untuk mengubah makna huruf Ha menjadi Ka, dan huruf Sa menjadi Ca.

Huruf Pangolat
Sumber: www.mandailingonline.com
Beberapa aturan penulisan yang harus diperhatikan dalam menulis surat tulak-tulak. Jika talinga “e” dan siala ulu “o” adalah sebuah suku kata yang berdiri sendiri, maka ina ni surat ditulis terlebih dahulu. Kemudian diikuti anak ni surat. Jika ulua “i” dan buruta “u” sebagai suku kata yang berdiri sendiri maka penulisan dapat berdiri sendiri. Jika anak ni surat terletak di depan sebuah ina ni surat yang diikat oleh pangolat dalam satu suku kata, maka anak ni surat tersebut melekat pada ina ni surat yang diikat pangolat.
Perhatikan juga penggunaan huruf [ng] pada kata [hambeng] dan [kombang]. Kata [hambeng] huruf [ng] masih digunakan, tetapi kata [kombang], huruf [ng] hanya menggunakan penanda [-] saja yang diletakkan di sudut kanan atas konsonan terakhir.
Aksara tulak-tulak atau surat tulak-tulak menjadi jati diri orang Mandailing. Oleh sebab itu, kita harus terus menggunakan dan melestarikannya.
Sumber:
https://www.mandailingonline.com/bahasa-dan-aksara-mandailing-bagian-2-selesai/
https://budaya-indonesia.org/Surat-Tulak-Tulak
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar