Mandailing Natal— Indonesia memiliki tradisi dan kebudayaan yang beragam. Terlebih saat menyambut hari besar seperti Hari Raya Idul Fitri. Masyarakat yang beragama muslim menyambut Idul Fitri dengan tradisi yang berbeda-beda. Masyarakat muslim di Kabupaten Mandailing Natal menyambut Idul Fitri dengan mangalomang.
![]() |
| Mangalomang |
“Mangalomang biasanya dilakukan saat menyambut Idul Fitri, Idul Adha, dan Satu Muharram,” ungkap Esti, ibu rumah tangga yang sering mangalomang.
Lomang terbuat dari beras ketan, santan, dan juga garam. Beras ketan dan santan dimasukkan ke dalam bambu yang sebelumnya telah dilapisi dengan daun pisang. Bambu dan daun pisang yang digunakan adalah bambu yang sudah tua sedangkan daun pisang yang dipakai ialah daun pisang yang masih muda.
![]() |
| Bambu diisi dengan beras ketan |
Bambu-bambu yang telah diisi beras ketan dimasak dengan cara dibakar. Lomang disandarkan di adaran (tempat memasak lomang). Adaran biasanya dibuat dengan besi yang dibalut dengan pelepah pisang.
Tradisi mangalomang masih ada sampai sekarang. Tradisi ini biasanya dilakukan dengan bergotong royong. Ada yang bertugas memasukkan beras ketan dan bahan lainnya ke dalam bambu dan ada yang menjaga lemang yang sedang dimasak.
Esti mengatakan jika mangalomang biasanya dilakukan berkelompok. Laki-laki bertugas mencari bambu, daun pisang, dan juga membuat adaran dan membakar lemang. Sedangkan perempuan membuat adonan lemangnya.
Lomang akan lebih nikmat disantap dalam keadaan hangat. Cara mengkonsumsi lomang pun berbeda-beda, bisa ditambah sirup, gulai, durian, rendang maupun aneka selai lainnya.
Bagi masyarakat di Mandailing, perayaan hari raya terasa kurang lengkap jika tidak melakukan tradisi Mangalomang.
.jpeg)

.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar