Senin, 16 Mei 2022

Mengenal Kopi Mandailing Bersama SMK 1 Ulu Pungkut

Mandailing Natal— Kopi Mandailing adalah salah satu jenis kopi populer asli Indonesia. Bukan hanya di Indonesia, kopi yang menjadi primadona di Mandailing ini cukup terkenal di luar negeri.

Kopi Mandailing

Seperti namanya, kopi Mandailing atau yang dikenal juga dengan kopi Mandheling ini berasal dari Kabupaten Mandailing Natal Pegunungan Bukit Barisan, Sumatera Utara. Kopi Mandailing memiliki tingkat keasaman fruity. Sebagai hasil bumi yang memiliki nilai yang tinggi, tentunya kopi Mandailing harus terus dibudidayakan dan ditingkatkan kualitasnya.

Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah Sumatera Utara untuk untuk meningkatkan produksi serta kualitas kopi Mandailing adalah dengan membuka SMK dengan jurusan yang dibutuhkan untuk mengembangkan dan meningkatkan kopi tersebut. SMK Negeri 1 Ulupungkut menjadi Sekolah Kejuruan yang didirikan sebagai salah satu upaya untuk mengedukasi anak muda tentang cara mengolah kopi.  

Wawancara dengan guru dan siswa dari 


Airiah Elvinasari Pulungan, Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Ulupungkut mengatakan jika ada Sembilan sekolah yang sama di seluruh Indonesia, salah satunya di Mandailing Natal. Sekolah ini dibangun khusus untuk mengembangkan kopi.

Airiah Elvinasari Pulungan, Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Ulupungkut mengatakan jika kopi Mandailing telah ada sejak zaman Belanda. Belanda memaksa masyarakat untuk menanam kopi. Mereka membawa kopi jenis Arabika untuk ditanam.

“Sebenarnyakan kita itu dipaksa untuk menanam kopi. Jenis yang mereka bawa adalah Arabika,” kata Airiah.

Selain Arabika, kopi Mandailing juga memiliki jenis kopi lain yaitu Robusta. Kopi Arabika berasal dari Arab, sedangkan kopi Robusta merupakan kopi lokal yang berasal dari Indonesia.

“Biji kopi Robusta lebih besar dibandingkan dengan biji kopi Arabika,”  lanjut Airiah.

Di SMKN 1 Ulu Pungkut, para siswa bukan hanya diajari cara menanam kopi, tetapi juga bagaimana cara mengolah kopi yang telah dipanen. Semua kopi mereka olah sendiri. Mulai dari proses pembibitan hingga pengemasan produk.

Pembibitan

Bibit yang baru dipindahkan ke polybag.

Bibit yang siap untuk dipindahkan
ke lahan pertanian/tanah. 

Langkah pertama dalam proses pembibitan ialah dengan mengambil kulit luar kopi. Kulit luar yang telah dipisahkan dengan biji kopi kemudian direndam. Setelah itu tunggu hingga kulit mengendap. Tidak semua kulit yang telah direndam bisa dibibitkan. Kulit yang mengapung harus dibuang.

Proses selanjutnya adalah penyemaian. Setelah bibit yang disemaikan tumbuh, barulah dipindahkan ke dalam polybag. Selain menanam kopi, mereka juga membibitkan kayu manis.

“Kita juga membibitkan kayu manis, karena biasanya orang Ulupungkut itu minum kopinya pakai kayu manis,” lanjutnya.

Kopi yang bisa dijadikan sebagai bibit ialah kopi dengan kualitas terbaik. Bibit yang telah tumbuh dan layak tanam akan dipindahkan ke lahan pertanian.

Pohon Kopi

Pohon kopi

Usia kopi dapat diketahui melalui batangnya. Semakin tua kopi, maka semakin besar batangnya. Tinggi pohon kopi ini sebaiknya sekitar 1 meter, agar saat panen tidak sulit. Biji kopi yang siap panen harus berwarna merah, jika berwarna hijau artinya biji kopi tersebut belum matang.  

Berry Parlindungan Lubis, guru SMKN 1 Ulu Pungkut  mengatakan jika selesai panen, ranting pohon kopi harus dipangkas.

“Ranting-rantingnya harus dipangkas setelah selesai panen, agar tumbuh lagi bunga dan buah yang baru. Kopi ini modelnya secara terus-menerus. Ketika buah telah merah, dipanen, nanti bunga baru tumbuh lagi,” kata Berry.

Usia pohon kopi di Ulu Pungkut bisa lebih dari 70 tahun. Untuk mencapai usia tersebut, ranting pohon harus rutin dipangkas.

Biji kopi yang belum siap panen



Kopi berwarna merah
telah siap untuk dipanen.

Perawatan pohon kopi disesuaikan dengan daerah pertumbuhan kopi. Perawatan kopi di Ulu Pungkut terbilang mudah, karena daerahnya subur serta udaranya cocok untuk menanam kopi.

“Karena daerah kita subur dan udaranya bersahabat, perawatannya itu mudah. Kita jarang memupuk dan menyemprot pohon kopi di sini. Paling membersihkan sekeliling batangnya dan rajin untuk memangkas rantingnya,” lanjut Berry.

Perawatan yang alami, tanpa pupuk dan pestisida berlebih menjadi salah satu alasan kopi Mandailing memiliki aroma dan rasa yang berbeda. Aroma kopi yang alami dan yang tidak alami bisa dibedakan. Tentunya, aroma dan rasa dari kopi inilah yang membedakan kopi Mandailing dengan kopi lainnya, dan juga menjadikan kopi Mandailing sebagai salah satu kopi yang terkenal dari Indonesia.

 

 


Senin, 09 Mei 2022

Halal Bi Halal Forum Rangkuti, Parinduri, Mardia Kabupaten Mandailing Natal

Mandailing NatalRangkuti adalah salah satu marga dari suku Mandailing yang berada di Sumatera Utara. Marga ini berasal dari Mandailing Natal. Rangkuti berasal dari Kata “Orang Yang Ditakuti”. Jika diucapkan secara cepat, maka akan terdengar menjadi “Rangkuti”.

Halal bi Halal Marga Rangkuti

Rangkuti juga terdiri dari marga parinduri dan juga mardia. Untuk menjaga silaturahmi di antara keluarga semarga, masyarakat yang tergabung ke dalam forum rangkuti, parinduri, dan mardia menggelar acara halal bi halal. Acara ini dilaksanakan pada Sabtu, 7 Mei 2022 di Desa Runding, Panyabungan Barat.

Desa Runding dipilih sebagai tuan rumah dari acara halal bi halal ini karena marga Rangkuti berasal dari desa ini. Desa Runding merupakan desa terakhir di daerah ini.

Gordang Sambilan

Abdul Rozak Rangkuti, bendahara acara halal bi halal tahun ini mengungkapkan jika acara halal bi halal ini hanya digelar sesekali. Acara ini bukan acara tahunan.

“Ini bukan acara tahunan, biasanya digelar sekali dalam tiga tahun,” Ungkap Rozak pada 7 Mei 2022.

Halal bi halal tahun ini cukup meriah. Banyak masyarakat bermarga rangkuti yang menghadirinya. Bahkan, banyak masyarakat yang rela pulang kampung untuk menghadiri acara ini.

“Acara halal bi halal tahun ini cukup besar. Tamunya bukan hanya masyarakat bermarga Rangkuti saja, tetapi beberapa orang penting seperti perwakilan dari bupati, Kapolres, Camat Panyabungan Barat, dan yang lainnya juga turut menghadiri acara ini,” lanjut Rozak.

Rangkaian acara halal bihalal tahun ini dimulai dengan penyambutan tamu penting dengan alunan gordang sambilan. Setelah para tamu duduk, acara dilanjutkan dengan persembahan tari tor-tor  Mandailing. Setelah itu, acara dibuka dengan kata sambutan dari beberapa tamu, lalu penampilan tari daerah (Tari Sinanggar tulo) dari bujing-bujing atau remaja perempuan dari Kecamatan Lembah Sorik Marapi.

Penmapilan Tari Sinanggar tulo

Bukan hanya menampilkan tarian daerah dan juga lagu-lagu daerah. Acara halal bi halal ini juga diisi dengan ceramah dari seorang ustadz bermarga Rangkuti.

Uniknya, acara ini tidak memiliki sponsor. Melainkan berdiri sendiri. Biaya yang dikeluarkan untuk halal bi halal didapat dari sumbangan yang diberikan oleh masyarakat bermarga Rangkuti, parinduri, dan mardia. Halal bi halal tahun ini bukan hanya untuk mempererat tali silaturahmi sesama marga rangkuti, melainkan untuk melantik pengurus baru.

Persatuan marga ini bukan hanya melakukan halal bi halal untuk mempererat tali silaturahmi di antara mereka. Pomparan marga Rangkuti, Parinduri, Mardia juga melakukan pengajian bulanan yang dilaksanakan secara bergiliran di rumah masyarakat Rangkuti, Parinduri, dan Mardia.

 

 

 

 

 

 

 


 

Tiga Fakta Unik Mandailing Natal, Surga Bagi wisatawan!

Mandailing NatalIndonesia adalah negara yang sangat luas. Setiap daerah yang ada di negara ini memiliki keunikannya masing-masing. Begitu pula dengan Kabupaten Mandailing Natal. Kabupaten ini berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Barat.

Ditetapkan pada 23 November tahun 1998 dan diresmikan 9 Maret 1999 pada awalnya memiliki 8 kecamatan. Kini, kabupaten ini memiliki 23 kecamatan. Ada banyak hal unik yang bisa kamu temukan di kabupaten seluas  ±6.134,00 km2 atau 8,40 persen dari wilayah Sumatera Utara ini.

Berikut tiga hal unik yang dapat kamu temukan di Kabupaten Mandailing Natal.

Air Asam

Sumber: http://atikahnasirrangkuti.blogspot.com/

Air asam atau aek macom menjadi hal unik yang kamu temui di kabupaten ini. Air asam ini mengalir Kecamatan Lembah Sorik Marapi (LSM). Hampir semua sungai di kecamatan ini dialiri oleh air asam. Air ini menjadi asam karena bercampur dengan belerang yang berasal dari Gunung Sorik Marapi. Aliran sungai air asam ini mengandung kadar asam yang sangat tinggi. Jadi, jika kamu memasukkan air tersebut ke dalam mulut, maka rasa asamnya akan sangat terasa. Walaupun unik, tetapi air asam ini tidak selamanya menjadi hal baik bagi masyarakat sekitar.

Pakaian yang dicuci di air ini akan mudah rusak, bahkan pakaian berwarna putih cukup dicuci beberapa kali untuk mengubah warnanya menjadi kuning. Para petani juga cukup dirugikan. Banyak area sawah yang tidak dapat difungsikan karena air asam ini merusak kandungan tanah. Untungnya, jika kamu ingin berenang di sungai air asam ini, kamu tidak perlu takut dengan hewan melata, karena ikan saja tidak bisa hidup di sungai yang dialiri air asam ini. Sungai air asam yang paling terkenal adalah  Aek Singolot di Purba Baru dan juga Aek Maga di desa Pasar Maga.

Serambi Mekkah Sumatera Utara

Sumber: https://beritahuta.com/

Menjadi daerah yang memiliki banyak pesantren menjadikan kabupaten ini dijuluki sebagai serambi Mekkah Sumatera Utara. Pesantren terbesar di Sumatera Utara juga berasal dari kabupaten ini, yaitu Pesantren Musthafawiyah. Pesantren yang telah berdiri sejak 1912 ini berada di Purba Baru Mandailing Natal. Ulama legendarisnya bernama Abdul Qadir Al Mandaili. Di Madina, peci lebih dominan dibandingkan topi. Bahkan bupati terpilih dalam kesehariannya mengenakan peci.

Selain Pesantren Musthafawiyah, ada sekitar 22 pesantren lain yang berdiri di kabupaten yang memiliki slogan “Negeri Beradat Taat Beribadat”  seperti Pondok Pesantren Roihanul Jannah, Pasar Maga, Pondok Pesantren Darul Ulum, Muara Mais Tambur, dan lainnya.

Tempat Wisata Gratis

Sumber: https://madina.go.id/

Hal unik lainnya dari kabupaten ini adalah banyak tempat wisata gratis. Ya, jika kamu ingin liburan tapi budget pas-pasan, maka Kabupaten Mandailing Natal adalah solusinya. Ada banyak destinasi wisata gratis yang dapat kamu kunjungi di kabupaten ini seperti sungai dan bendungan Aek Godang, Sampuraga, Air Terjun, Danau, dan destinasi wisata lainnya. Bahkan, jika kamu pergi ke Kantor Bupati Mandailing Natal, maka kamu bisa mendatangi tempat wisata yang ada di sana tanpa dipungut biaya sepeserpun. Kamu bisa healing di panatapan, piknik di Taman Raja Batu, dan lainnya. Tentunya, jika kamu mengunjungi destinasi wisata gratis, maka kamu akan menghemat biaya liburanmu.

Itulah tiga fakta unik dari Kabupaten Mandailing Natal. 


Rayakan Idul FItri dengan Wisata Religi di Masjid Nur Ala Nur

Mandailing NatalHari Raya Idul Fitri menjadi hari yang paling ditunggu oleh umat muslim setelah berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan. Saat hari kemenangan ini tiba, tidak sedikit dari umat muslim yang memilih untuk merayakannya di tempat wisata yang mengandung nilai islami di dalamnya. Salah satunya adalah dengan mengunjungi masjid.

Masjid Agung Nur ala Nur

Jika kamu merayakan Hari Raya Idul Fitri di Kabupaten Mandailing Natal, maka rasanya kurang afdal jika kamu belum mengunjungi Masjid Agung Nur ala Nur. Masjid ini termasuk ke dalam kategori  masjid besar. Terletak di Jl. Trans Sumatera, Bukittinggi-Padang Sidempuan, Kelurahan Dalan Lidang Panyabungan, masjid ini berdiri di atas lahan seluas  seluas 21.197 M2. Bangunannya terdiri dari tiga lantai. kapasitas jamaah di dalam gedung ruang shalat utama berada di lantai 2 sebanyak 1.675 orang jamaah, untuk ruang sholat mezzanine di lantai 3 sebanyak 575 orang. Jumlah kapasitas tampungnya sebanyak 2.250 orang.

Masjid yang diresmikan pada 26 Agustus ini menjadi  tidak hanya digunakan untuk beribadah saja. Banyak kegiatan dan event yang diadakan di masjid ataupun di sekitar masjid. Masjid ini juga sering dijadikan sebagai tempat wisata religi bagi masyarakat sekitar maupun wisatawan dari luar Mandailing Natal. Apalagi saat Hari Raya Ied tiba, masjid yang berada di dekat sungai dan bendungan Batang Gadis Aek Godang ini akan ramai dikunjungi.

Saat Idul Fitri, banyak orang yang khusus datang untuk melihat kemegahan masjid ini. Mereka akan berbondong-bondong mendatangi masjid Nur ala Nur untuk melaksanakan ibadah atau hanya sekedar bersantai. Pengunjung yang datang, apalagi saat hari Raya Ied biasanya adalah warga lokal yang datang bersama keluarganya. Namun, tak sedikit juga wisatawan dari luar daerah yang sengaja datang untuk melihat keindahan masjid ini.

Masjid Nur ala Nur memiliki halaman yang sangat luas, bahkan ada taman yang ditanami rumput untuk tempat bersantai. Walaupun berada di kota, tetapi lingkungan sekitar masjid masih asri. Banyak bunga dan pohon yang ditanam di sekitar masjid. Pengunjung bisa menghabiskan waktu  dengan mengelilingi masjid sambil berfoto ria untuk mengabadikan moment selama liburan di masjid ini. Banyaknya masyarakat yang pulang kampung membuat masjid pengunjung masjid Nur ala Nur bertambah. Bahkan hingga malam tiba, kendaraan yang memasuki masjid ini masih tetap ada.

Selain karena keindahannya, masjid ini juga ramai dikunjungi saat Idul Fitri tiba karena lokasinya yang berada di dekat tempat wisata. Masjid ini dekat dengan sungai dan aek Aek Godang dan juga beberapa tempat wisata lainnya. Selain itu, ada banyak pedagang kaki lima yang menjajakan makanan tepat di luar pagar masjid. jadi, pengunjung yang merasa lapar atau ingin membeli sesuatu, cukup berjalan keluar saja.

Bahkan LOPO Mandheling Coffee telah membuka cabang di area masjid. Kamu bisa menemukan kafe ini saat memasuki area Masjid Nur ala Nur dari pintu masuk. Berbeda dengan cafe pada umumnya, suasana kafe ini lebih tenang karena pengunjung lebih tertib. Selain itu, arsitektur dan bangunan kafe disesuaikan dengan masjid. bahkan warna cat kafe ini sama disamakan dengan bangunan masjid Nur ala Nur.

Oleh karena itu, masjid ini sangat cocok dijadikan sebagai destinasi wisata religi yang wajib kamu kunjungi untuk merayakan lebaran di Mandailing Natal.



Mangalomang, Tradisi Sambut Lebaran di Mandailing Natal

Mandailing Natal— Indonesia memiliki tradisi dan kebudayaan yang beragam. Terlebih saat menyambut hari besar seperti Hari Raya Idul Fitri. Masyarakat yang beragama muslim menyambut Idul Fitri dengan tradisi yang berbeda-beda. Masyarakat muslim di Kabupaten Mandailing Natal menyambut Idul Fitri dengan mangalomang.

Mangalomang

Mangalomang merupakan tradisi memasak lomang atau lemang. Dalam setahun, tradisi ini dilakukan sebanyak dua kali, yaitu saat menyambut bulan Ramadan dan juga menyambut lebaran. Selain itu, mangalomang juga sering diadakan saat ada acara besar seperti merayakan Maulid Nabi, Isra Mi'raj, dan perayaan lainnya.

“Mangalomang biasanya dilakukan saat menyambut Idul Fitri, Idul Adha, dan Satu Muharram,” ungkap Esti, ibu rumah tangga yang sering mangalomang.

Lomang terbuat dari beras ketan, santan, dan juga garam. Beras ketan dan santan dimasukkan ke dalam bambu yang sebelumnya telah dilapisi dengan daun pisang. Bambu dan daun pisang yang digunakan adalah bambu yang sudah tua sedangkan daun pisang yang dipakai ialah daun pisang yang masih muda.

Bambu diisi dengan beras ketan

“Agar lebih enak, beras ketan yang telah dimasukkan ke dalam bambu direndam dulu dengan santan, lalu dibiarkan selama kurang lebih setengah jam, agar santannya meresap dan lemangnya menjadi legit,” sambung Esti.

Bambu-bambu yang telah diisi beras ketan dimasak dengan cara dibakar. Lomang disandarkan di adaran (tempat memasak lomang). Adaran biasanya dibuat dengan besi yang dibalut dengan pelepah pisang.

Tradisi mangalomang masih ada sampai sekarang. Tradisi ini biasanya dilakukan dengan bergotong royong. Ada yang bertugas memasukkan beras ketan dan bahan lainnya ke dalam bambu dan ada yang menjaga lemang yang sedang dimasak.

Esti mengatakan jika mangalomang biasanya dilakukan berkelompok. Laki-laki bertugas mencari bambu, daun pisang, dan juga membuat adaran dan membakar lemang. Sedangkan perempuan membuat adonan lemangnya.

Lomang akan lebih nikmat disantap dalam keadaan hangat. Cara mengkonsumsi lomang pun berbeda-beda, bisa ditambah sirup, gulai, durian, rendang maupun aneka selai lainnya.

Bagi masyarakat di Mandailing, perayaan hari raya terasa kurang lengkap jika tidak melakukan tradisi Mangalomang.


Rabu, 04 Mei 2022

Surat Tulak-Tulak, Aksara Tradisional dari Mandailing Natal

 Mandailing Natal— Selain memiliki bahasa tradisional, Mandailing Natal juga memiliki aksara tradisional. Aksara tradisional ini disebut juga dengan Surat Tulak-Tulak. Tidak semua daerah di Indonesia memiliki aksara sendiri, aksara Mandailing masuk ke dalam 7 jenis aksara yang ada di Indonesia.


Aksara tulak-tulak
Sumber: www.mandailingonline.com

Surat tulak-tulak biasanya digunakan untuk ilmu perdukunan, ilmu nujum, surat-menyurat dan ratapan. Aksara ini merupakan metamorfosis dari huruf Pallawa. Berdasarkan penelitian para ahli sejarah dan antropolog, Aksara Tulak-Tulak ini menyebar dari selatan (Mandailing) ke arah utara (Toba). Aksara Tulak-Tulak biasanya dituliskan pada lembaran kulit kayu alim (pustaha laklak) dan juga beberapa media lain seperti bambu.

Ada 21 jenis huruf dalam Aksara Mandailing yang dikelompokkan ke dalam sebutan Ina ni Surat. Selain Ina ni Surat, aksara ini juga dikelompokkan menjadi Anak ni Surat.

Ina ni Surat

Ina ni surat
Sumber: www.mandailingonline.com


Kelompok ini belum sepenuhnya bisa digunakan dalam pembentukan kata, karena belum memenuhi semua morfem pembentuk bunyi.  Selain karena belum memiliki simbol bunyi [e] dan [o], juga belum memiliki bunyi konsonan atau huruf mati.

Anak ni Surat

Anak ni surat
Sumber: www.mandailingonline.com


Anak ni Surat digunakan untuk mengubah vokal [a] bervariasi menjadi bunyi vokal [i], [e], [o], dan [u]. Selain itu juga pembentuk bunyi [-ng] dan bunyi konsonan.

Proses pembentukan kata dapat dilakukan dengan menggabungkan Ina ni surat dan juga anak ni surat. Selain itu, Aksara Tulak-tulak juga menggunakan huruf pangolat yang ditandai dengan simbol . Huruf ini berfungsi untuk membuat bunyi konsonan atau huruf mati di akhir suku kata. Pangolat juga berfungsi untuk menghilangkan bunyi “a” pada Ina Ni Surat digunakan tanda pangolat “ \ ”.

Pada aksara tulak-tulak juga ada ‘Bindu’ dan ‘Tompi’. Bindu merupakan Sebuah ornamen yang menandai awal sebuah alinea atau BAB. Bindu kecil dipakai untuk menandai awal sebuah alinea, sedangkan bindu besar terdapat pada awal sebuah atau BAB baru. Sedangkan tompi berfungsi untuk mengubah makna huruf Ha menjadi Ka, dan huruf Sa menjadi Ca.

Huruf Pangolat
Sumber: www.mandailingonline.com

Beberapa aturan penulisan yang harus diperhatikan dalam menulis surat tulak-tulak.  Jika talinga “e” dan siala ulu “o” adalah sebuah suku kata yang berdiri sendiri, maka ina ni surat ditulis terlebih dahulu. Kemudian diikuti anak ni surat.  Jika ulua “i” dan buruta “u” sebagai suku kata yang berdiri sendiri maka penulisan dapat berdiri sendiri. Jika anak ni surat terletak di depan sebuah ina ni surat yang diikat oleh pangolat dalam satu suku kata, maka anak ni surat tersebut melekat pada ina ni surat yang diikat pangolat.

Perhatikan juga penggunaan huruf [ng] pada kata [hambeng] dan [kombang]. Kata [hambeng] huruf [ng] masih digunakan, tetapi kata [kombang], huruf [ng] hanya menggunakan penanda [-] saja yang diletakkan di sudut kanan atas konsonan terakhir.

 

Aksara tulak-tulak atau surat tulak-tulak menjadi jati diri orang Mandailing. Oleh sebab itu, kita harus terus menggunakan dan melestarikannya.

Sumber:

https://www.mandailingonline.com/bahasa-dan-aksara-mandailing-bagian-2-selesai/

https://web.facebook.com/195187278068295/photos/bahasa-dan-aksara-mandailing-suku-bangsa-mandailing-memiliki-bahasa-sendiri-yait/199105204343169/?_rdc=1&_rdr

https://budaya-indonesia.org/Surat-Tulak-Tulak

 



Mengenal Bahasa Mandailing, Bahasa Daerah Mandailing Natal

Mandailing Natal— Indonesia adalah negara yang kaya. Bukan hanya sumber daya alamnya, tetapi juga tentang adat istiadat, kebudayaan, dan tentunya bahasa. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Badan Bahasa Kemendikbud) telah memetakan dan memverifikasi 652 bahasa daerah di Indonesia. Jumlah tersebut belum termasuk dialek dan subdialek.

Bahasa Mandailing
Sumber: https://play.google.com/

Sama halnya dengan daerah lain di Indonesia, Suku Mandailing juga memiliki bahasa sendiri, yaitu bahasa Mandailing (rumpun bahasa Austronesia). Bahasa Mandailing mulai dikenal secara luas melalui buku  “Stukken in het Mandailing Ssh” yang ditulis oleh HN Van Der Tuuk, seorang ahli tata bahasa pada 1861.

Bahasa Mandailing memiliki beberapa perbedaan dengan bahasa daerah lainnya. Misalnya dengan bahasa Jawa yang hanya memiliki  dua ragam penggunaan berdasarkan kelas sosial pendengarnya, bahasa halus dan bahasa kasar, maka bahasa Mandailing memiliki keberagaman yang lebih banyak dan lebih luas lagi. Perlu digaris bawahi bahwa perbedaan yang dimaksud tidak menyangkut pada kelas sosial.

Dalam prakteknya bahasa ini dibagi atas lima ragam yang dibedakan atas kosakata yang berbeda.

Ragam Bahasa Adat

Ragam badaha adat digunakan dalam prosesi adat, seperti pernikahan, kemalangan, dan lain-lain. Pilihan kata yang digunakan merujuk kepada pilihan kata klasik yang sangat berbeda dengan pilihan kata yang biasa digunakan sehari-hari. Bahkan, beberapa kata yang digunakan dalam prosesi adat, tidak pernah lagi digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Perbedaan ini terjadi karena dalam prosesi adat setiap orang dibedakan kedudukannya atas kahanggi, anak boru dan mora.

Ragam Bahasa Andung

Ragam bahasa ini digunakan saat seseorang meratapi kemalangan. Penutur akan mengungkapkan kesedihannya dengan bahasa dan lagu tertentu.

Ragam Bahasa Parkapur

Bahasa ini digunakan saat berada di lingkungan hutan. Saat berada di hutan, kita selalu disuruh untuk menjaga sopan santun, baik dalam perbuatan maupun perkataan. Bahkan beberapa kata yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari dianggap pantang diucapkan dalam lingkungan rimba. Misalnya harimau. Jadi untuk menyebut harimau diganti menjadi ‘nagogoi’.

Ragam Bahasa Somal

Seperti namanya "somal" bahasa ini merupakan bahasa yang biasa digunakan sehari-hari.  Bahasa ini digunakan  tanpa mengenal usia dan jenis kelamin. Ragam bahasa somal tidak memiliki perbedaan pada pilihan kata dalam penggunaannya di lingkungan rumah, di antara teman sebaya, maupun di lingkungan sosial penutur. Jumlah kosakata yang digunakan tidak terhingga, juga variasi ungkapannya.

Ragam Bahasa Bura

Bahasa yang satu ini digunakan dalam situasi emosional. Kebanyakan digunakan oleh wanita saat mengekspresikan rasa marahnya kepada orang lain. Kata-kata yang digunakan dianggap tidak patut diucapkan dalam situasi normal. Selain menggunakan kata tertentu juga disampaikan dengan nada yang keras.

Bahasa  Mandailing merupakan warisan budaya dari leluhur yang memiliki nilai histori yang harus dilestarikan dan dibudayakan dalam kehidupan sehari hari. Sehingga menjadi kebanggaan suku mandailing itu sendiri kedepan.


Sumber: https://www.mandailingonline.com/bahasa-dan-aksara-mandailing-bagian-2-selesai/

Mengenal Kopi Mandailing Bersama SMK 1 Ulu Pungkut

Mandailing Natal — Kopi Mandailing adalah salah satu jenis kopi populer asli Indonesia. Bukan hanya di Indonesia, kopi yang menjadi primadon...