Mandailing Natal— Indonesia adalah negara yang kaya. Bukan hanya sumber daya alamnya, tetapi juga tentang adat istiadat, kebudayaan, dan tentunya bahasa. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Badan Bahasa Kemendikbud) telah memetakan dan memverifikasi 652 bahasa daerah di Indonesia. Jumlah tersebut belum termasuk dialek dan subdialek.

Bahasa Mandailing
Sumber: https://play.google.com/
Sama halnya dengan daerah lain di Indonesia, Suku Mandailing juga memiliki bahasa sendiri, yaitu bahasa Mandailing (rumpun bahasa Austronesia). Bahasa Mandailing mulai dikenal secara luas melalui buku “Stukken in het Mandailing Ssh” yang ditulis oleh HN Van Der Tuuk, seorang ahli tata bahasa pada 1861.
Bahasa Mandailing memiliki beberapa perbedaan dengan bahasa daerah lainnya. Misalnya dengan bahasa Jawa yang hanya memiliki dua ragam penggunaan berdasarkan kelas sosial pendengarnya, bahasa halus dan bahasa kasar, maka bahasa Mandailing memiliki keberagaman yang lebih banyak dan lebih luas lagi. Perlu digaris bawahi bahwa perbedaan yang dimaksud tidak menyangkut pada kelas sosial.
Dalam prakteknya bahasa ini dibagi atas lima ragam yang dibedakan atas kosakata yang berbeda.
Ragam Bahasa Adat
Ragam badaha adat digunakan dalam prosesi adat, seperti pernikahan, kemalangan, dan lain-lain. Pilihan kata yang digunakan merujuk kepada pilihan kata klasik yang sangat berbeda dengan pilihan kata yang biasa digunakan sehari-hari. Bahkan, beberapa kata yang digunakan dalam prosesi adat, tidak pernah lagi digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Perbedaan ini terjadi karena dalam prosesi adat setiap orang dibedakan kedudukannya atas kahanggi, anak boru dan mora.
Ragam Bahasa Andung
Ragam bahasa ini digunakan saat seseorang meratapi kemalangan. Penutur akan mengungkapkan kesedihannya dengan bahasa dan lagu tertentu.
Ragam Bahasa Parkapur
Bahasa ini digunakan saat berada di lingkungan hutan. Saat berada di hutan, kita selalu disuruh untuk menjaga sopan santun, baik dalam perbuatan maupun perkataan. Bahkan beberapa kata yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari dianggap pantang diucapkan dalam lingkungan rimba. Misalnya harimau. Jadi untuk menyebut harimau diganti menjadi ‘nagogoi’.
Ragam Bahasa Somal
Seperti namanya "somal" bahasa ini merupakan bahasa yang biasa digunakan sehari-hari. Bahasa ini digunakan tanpa mengenal usia dan jenis kelamin. Ragam bahasa somal tidak memiliki perbedaan pada pilihan kata dalam penggunaannya di lingkungan rumah, di antara teman sebaya, maupun di lingkungan sosial penutur. Jumlah kosakata yang digunakan tidak terhingga, juga variasi ungkapannya.
Ragam Bahasa Bura
Bahasa yang satu ini digunakan dalam situasi emosional. Kebanyakan digunakan oleh wanita saat mengekspresikan rasa marahnya kepada orang lain. Kata-kata yang digunakan dianggap tidak patut diucapkan dalam situasi normal. Selain menggunakan kata tertentu juga disampaikan dengan nada yang keras.
Bahasa Mandailing merupakan warisan budaya dari leluhur yang memiliki nilai histori yang harus dilestarikan dan dibudayakan dalam kehidupan sehari hari. Sehingga menjadi kebanggaan suku mandailing itu sendiri kedepan.
Sumber: https://www.mandailingonline.com/bahasa-dan-aksara-mandailing-bagian-2-selesai/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar