Minggu, 27 Februari 2022

Durian Lokal Mandailing


Musim tarutung atau musim durian adalah salah satu musim buah yang paling ditunggu. Bagaimana tidak? Buah yang memiliki bau khas ini selalu sukses mencuri perhatian para penikmatnya. Begitu pula dengan masyarakat Mandailing Natal. Beberapa dari mereka bahkan rela pergi ke desa lain agar dapat menikmati durian karena bisa dibilang hampir semua orang menyukai buah berduri ini.

Sebenarnya musim durian tidak menentu. Namun pada saat musim, biasanya menjelang bulan ramadhan, masyarakat akan berbondong-bondong untuk marjago atau martarutung (menunggu durian jatuh). Mulai dari para orang tua, anak-anak, bahkan mereka yang tidak suka durian juga akan merasa exited saat musim durian tiba. Apalagi saat musim besarnya atau yang sering disebut arabakanna. Pada saat itu, hampir setiap hari orang mengonsumsi buah berduri ini.

Marjago tarutung 

Ada banyak jenis durian lokal yang ada di kabupaten Mandailing Natal. Durian-durian tersebut antara lain si dingkil, si tetek ambeng atau si te ni ambeng, si jabak, si petek, si sere dan lain sebagainya. Nama-nama durian ini merupakan cermin bentuk durian pada bagian luar atau dalam. Ada juga  berawal dari cerita-cerita tertentu.

Berikut adalah beberapa jenis durian lokal dari Mandailing:

1. Si Jantung

Dinamakan durian si jantung karena terlihat seperti jantung. Daging buahnya tebal dan rasanya manis. Banyak orang yang menyukai durian ini. Alasanya adalah karena daging buahnya tebal, tapi bijinya kecil. Sehingga akan sangat puas saat menyantapnya.

2. Si Jabak

Durian satu ini adalah salah satu durian yang paling besar di antara durian lokal lainnya. Berbeda dengan si jantung, buah dan biji durian ini berukuran sedang. Rasanya yang manis membuat banyak orang menyukai durian ini. Namun sayang, butuh kesabaran ekstra untuk menunggu buah ini jatuh dari pohonnya.



3. Si Dingkil

Rasa durian ini manis dan isinya lebih banyak dari durian biasanya, tapi banyak  orang kurang menyukainya. Hal ini karena dagingnya yang tipis bahkan tidak bisa menutup bijinya. Seperti namanya, Dingkil, dalam bahasa Mandailing bisa diartikan tipis.

4. Si Tetek Ambeng

Durian ini digambarkan seperti “Kotoran Kambing” karena bijinya yang kecil-kecil. 

5. Si Sere

Durian ini dinamakan si sere karena warnanya seperti sere (emas). Durian jenis ini juga banyak disukai masyarakat karena dagingnya tebal sedangkan bijinya tipis.

Masyarakat sering memakan durian dengan lomang kotan atau lemang ketan. Biasanya, mereka akan pergi ke kebun untuk menunggu durian jatuh sambil membawa perlengkapan untuk memasak lemang bersama keluarga atau teman. Jika hasil duriannya banyak, masyarakat biasanya menjual durian tersebut ke pada pengepul atau menjualnya langsung di pinggir jalan. Akan tetapi, banyak juga orang yang memilih untuk membaginya kepada keluarga, tetangga, dan orang terdekat. Bahkan tak jarang durian-durian tersebut dikirim ke keluarga mereka yang berada di seberang pulau. 

Bukan hanya itu. Buah yang satu ini juga sering dipamerkan dalam acara kebudayaan. Bahkan pada tanggal 12-13 Februari kemarin diadakan Pekan Raya Durian di halaman  SMP Negeri 1 Tambangan , Desa Laru Baringin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenal Kopi Mandailing Bersama SMK 1 Ulu Pungkut

Mandailing Natal — Kopi Mandailing adalah salah satu jenis kopi populer asli Indonesia. Bukan hanya di Indonesia, kopi yang menjadi primadon...