Musim tarutung atau musim durian adalah salah satu musim buah yang paling ditunggu. Bagaimana tidak? Buah yang memiliki bau khas ini selalu sukses mencuri perhatian para penikmatnya. Begitu pula dengan masyarakat Mandailing Natal. Beberapa dari mereka bahkan rela pergi ke desa lain agar dapat menikmati durian karena bisa dibilang hampir semua orang menyukai buah berduri ini.
Sebenarnya musim
durian tidak menentu. Namun pada saat musim, biasanya menjelang bulan ramadhan,
masyarakat akan berbondong-bondong untuk marjago atau martarutung (menunggu
durian jatuh). Mulai dari para orang tua, anak-anak, bahkan mereka yang tidak
suka durian juga akan merasa exited saat musim durian tiba. Apalagi saat musim
besarnya atau yang sering disebut arabakanna. Pada saat itu, hampir setiap hari
orang mengonsumsi buah berduri ini.
Ada banyak jenis
durian lokal yang ada di kabupaten Mandailing Natal. Durian-durian tersebut
antara lain si dingkil, si tetek ambeng atau si te ni ambeng,
si jabak, si petek, si sere dan lain sebagainya. Nama-nama durian ini merupakan
cermin bentuk durian pada bagian luar atau dalam. Ada juga berawal dari
cerita-cerita tertentu.
Berikut adalah beberapa jenis durian lokal dari Mandailing:
1. Si JantungDinamakan durian si jantung karena terlihat seperti jantung. Daging buahnya tebal dan rasanya manis. Banyak orang yang menyukai durian ini. Alasanya adalah karena daging buahnya tebal, tapi bijinya kecil. Sehingga akan sangat puas saat menyantapnya.
2. Si Jabak
Durian satu ini adalah salah satu durian yang paling besar di antara durian lokal lainnya. Berbeda dengan si jantung, buah dan biji durian ini berukuran sedang. Rasanya yang manis membuat banyak orang menyukai durian ini. Namun sayang, butuh kesabaran ekstra untuk menunggu buah ini jatuh dari pohonnya.
3. Si Dingkil
Rasa durian ini manis dan isinya lebih banyak dari durian biasanya, tapi banyak orang kurang menyukainya. Hal ini karena dagingnya yang tipis bahkan tidak bisa menutup bijinya. Seperti namanya, Dingkil, dalam bahasa Mandailing bisa diartikan tipis.
4. Si Tetek Ambeng
Durian ini digambarkan seperti “Kotoran Kambing” karena bijinya yang kecil-kecil.
5. Si Sere
Durian ini dinamakan si sere karena warnanya seperti sere (emas). Durian jenis ini juga banyak disukai masyarakat karena dagingnya tebal sedangkan bijinya tipis.
Masyarakat sering
memakan durian dengan lomang kotan atau lemang ketan. Biasanya, mereka akan pergi
ke kebun untuk menunggu durian jatuh sambil membawa perlengkapan untuk memasak
lemang bersama keluarga atau teman. Jika hasil duriannya banyak, masyarakat
biasanya menjual durian tersebut ke pada pengepul atau menjualnya langsung di
pinggir jalan. Akan tetapi, banyak juga orang yang memilih untuk membaginya
kepada keluarga, tetangga, dan orang terdekat. Bahkan tak jarang durian-durian
tersebut dikirim ke keluarga mereka yang berada di seberang pulau.
Bukan hanya itu. Buah
yang satu ini juga sering dipamerkan dalam acara kebudayaan. Bahkan pada
tanggal 12-13 Februari
kemarin diadakan Pekan Raya Durian di halaman SMP Negeri 1 Tambangan , Desa Laru Baringin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar