Jumat, 18 Februari 2022- Asosiasi Klaster Indonesia kembali menyelenggarakan webinar seri 32 yang bertema Membangkitkan Pariwisata Minat Khusus Di Desa Wisata. Selain dihadiri oleh Agus Suryono selaku ketua Asosiasi Klaster Indonesia, webinar ini juga mengundang beberapa narasumber, yaitu Galuh Alif Fahmi Rizki-Penggiat Desa Wisata Tinalah Kulon Progo, Yogyakarta, Abdul Khayyi-Ketua Pokdarwis Desa Wisata Cempaka Kabupaten Tegal, dan juga Hendra Perdana/Kang Elang-Ketua umum Indonesian Fighter Tourism Association.
Acara dibuka dengan sambutan dari Ketua Asosiasi Klaster Indonesia. Dalam sambutannya, A. Suryono berharap jika webinar ini bisa menyebarkan virus-virus kebaikan terutama dengan masyarakat di pedesaan.
| Webinar AKsi Seri 32 |
Setelah sambutan, selanjutnya diputarkan video tentang Desa Wisata Cempaka di Tegal. Dalam video tersebut disebutkan bahwa Desa Cempaka merupakan pusat kesenian di bumi Jawa. Pada awalnya, untuk membuka tempat wisata di desa ini cukup susah karena mendapat penentangan dari para tetua atau sesepuh desa.
“Kebetulan desa kami (Desa Cempaka) memiliki potensi untuk dijadikan destinasi wisata. Tentu saja bukan tanpa tantangan. Tantangan yang cukup berat karena desa kami merupakan desa yang cukup reliji, sehingga untuk membuat tempat wisata ini konotasinya para sesepuh sudah agak curiga karena parameternya wisata itu di sini sebagai kemaksiatan.” Uangkap Abdul Hayyi dalam webinar tesebut.
“Dengan dialog yang cukup panjang, akhirnya beliau-beliau menyetujui dan ini menjadi modal bagi kami sebagai support.” Sambungnya.
Salain itu, Abdul Hayyi juga mengatakan bahwa kesulitan lai adalah bagaimana membangun kesadaran masyarakat agar mereka merasa memiliki, ikut andil, hidup bersih, dan ramah kepada wisatawan. Akan tetapi, setelah manfaat setelah dibukanya tempat wisata, mereka mulai menerimanya.
| Sumber: TribunJateng.com |
Selanjutnya, webinar ini memutar video yang membahas tentang Desa Wisata Tinalah, Kabupaten Kulon Progo, D.I Yogyakarta. Desa Wisata Tinalah memiliki unsur penting berupa air, tanah, udara, energy, dan berbagai mineral yang menjadi penopang kehidupan.
“Mayoritas masyarakat di tempat kami adalah petani, buruh, dan peternak. Kawasan kami memang kawasan pinggiran sungai. Jargon kami adalah ‘Pesona Alam dan Budaya’ ini menjadikan desa kami bagaimana memeprtahankan budaya dan kondisi social masyarakat. Jadi, kami tidak merubah pekerjaan masyarakat di desa. Tetapi, kami yakin bawa setiap masyarakat memiliki potensi yang luar biasa.” Uangkap Galuh Alif Fahmi dalam webinar tersebut.
Desa Wisata Tinalah berkonsep desa wisata berbasis masyarakat. Jadi, mereka memanfaatkan kekayaan alam yang ada dan sumber daya manusia untuk menarik wisatawan. Wisatawan yang berkunjung dapat engikuti setiap kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat di sana.
| Sumber: KOMPAS.com |
Selain narasumber di atas, ada juga kang Elang, Ketua Umum Indonesian Fighter Tourism Association (IFTA). Beliau mengungkapkan bahwa IFTA 60 % merupakan Travel Agent, 10 % penggiat pariwisata, 10 % praktiri, dan 10% traveller. Kang Elang mengungkapkan bahwa IFTA didirikan untuk mempertahankan pariwisata di tengah pandemi.
Beliau mengatakan bahwa akar dari semua elemen-elemen pariwisata contohnya adalah Desa Pariwisata.
“Dari Desa Wisata inilah kami memulai, membangun, memperkuat jaringan kami untuk mengajak masyarakat agar tetap bisa bertahan di saat mastourism mulai ditinggalkan orang.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar