Senin, 25 April 2022

Pakkat, Lalapan Khas Ramadan dari Mandailing Natal

Mandailing Natal—Saat bulan Ramadan, pakkat tidak pernah absen sebagai menu khas yang dikonsumsi oleh sebagian masyarakat Mandailing Natal. Lalapan ini menjadi lalapan primadona saat Ramadan tiba.

Pakkat, makanan khas Mandailing Natal

Makanan khas dari Mandailing Natal ini memiliki rasa yang sedikit pahit. Jika pertama kali mencobanya, mungkin rasanya kurang cocok dengan lidah, tetapi jika sudah terbiasa akan membuat ketagihan. Pakkat bisa diolah menjadi berbagai macam hidangan, mulai dari jadi lalapan, dimakan dengan urap, atau digulai. Bahkan pakkat bisa membangkitkan selera makan.

Makanan yang biasanya hanya ditemui saat Ramadan saja. Mahadir Nasution beserta temannya Abduh Lubis, seorang pedagang pakkat mengatakan bahwa mereka menjual pakkat setiap hari hanya saat bulan  Ramadan. Sedangkan pada hari biasa, selain Ramadan, mereka hanya menjual pakkat pada hari Kamis. Mereka menjual pakkat pada hari Kamis karena pada hari ini ada pasar mingguan di Panyabungan, Ibu Kota Kabupaten Mandailing Natal.

Pakkat merupakan lalapan yang berasal dari pucuk rotan muda yang dibakar hingga lunak. Pucuk rotan yang diolah menjadi pakkat diambil dari hutan dari daerah Mandailing.

“Pakkat ini aslinya dari pucuk rotan yang diambil dari hutan di daerah kita. Biasanya dari Rao, Panti, dan paling banyak dari Natal,” Ungkap Mahadir saat diwawancarai pada 24 April, 2022.

Pakkat dibakar dalam bara api.

Pakkat yang dijual biasanya berukuran sekitar satu meter. Saat membeli pakkat, pedagang biasanya akan membuka kulit rotan yang telah dibakar hingga daging pakkat yang berwarna putih terlihat. Setelah itu, pakkat yang telah dikupas akan dipotong kecil-kecil, 3-5 sentimeter dengan membuang bagian kerasnya.

Walaupun pakkat selalu diburu saat bulan puasa tiba, tetapi stok rotan untuk membuat pakkat masih terpenuhi setiap tahunnya.

“Stoknya ada, sama seperti tahun sebelumnya. Masih ada barang untuk dijual. Penjualannya juga sama seperti tahun lalu.” Kata Mahadir.

Jika pergi ke Panyabungan, maka akan terlihat para pedagang pakkat hampir di sepanjang jalan. Bahkan hingga ke dalam pasar, para pembeli tetap bisa menemukan lalapan yang satu ini. Untuk harganya, pakkat terbilang makanan yang murah. Harganya berkisar 10-15 ribu rupiah saja. Harga pakkat biasanya tergantung pada ukuran dan kualitas rotannya.

“Harganya berbeda, ada yang dua 15 ribu, ada yang dua 10 ribu,” lanjut Mahadir.

Mahadir juga mengatakan bahwa dagangannya juga pernah masuk TV Nasional, yaitu TVRI.

Semakin banyak orang yang tahu tentang makanan ini, maka akan semakin banyak orang yang penasaran dan peminatnya juga akan bertambah. Dengan begitu, pakkat bisa menjadi kuliner khas yang dapat membantu Kabupaten Mandailing Natal agar semakin dikenal dan tentunya dapat membantu perekonomian masyarakat.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenal Kopi Mandailing Bersama SMK 1 Ulu Pungkut

Mandailing Natal — Kopi Mandailing adalah salah satu jenis kopi populer asli Indonesia. Bukan hanya di Indonesia, kopi yang menjadi primadon...