Mandailing Natal merupakan sebuah kabupaten yang berada di pinggiran Sumatera Utara. Kabupaten ini memiliki kekayaan alam melimpah. Banyak sumber daya alam yang dapat digali. Salah satu SDA yang dimiliki Mandailing adalah gas bumi. PT SMGP (PT Sorik Marapi Geothermal Power) adalah perusahaan yang mengeksplorasi gas panas bumi di lereng Gunung Sorik Marapi, Mandailing Natal.
Perusahaan yang sering disebut OTP oleh masyarakat sekitar ini tetap berdiri sejak 2010 hingga sekarang di Sibanggor Julu, Roburan Lombang dan Sirambas, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Perusahaan ini adalah perusahaan Konsorsium dari Origin Energy 47,5 %, Tata Power 47,5 % dan PT Supraco Indonesia 5%. Perusahaan ini berdiri sejak tahun 2010. Diperkirakan akan menghasilkan energi listrik sebesar 240 MW. Berdirinya perusahaan ini memberikan dampak positif seperti pemberdayaan sumber daya alam, meningkatkan perekonomian Negara, dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.
Namun, meskipun memiliki dampak positif, masyarakat sekitar banyak yang tidak setuju jika perusahaan ini didirikan. Hak ini karena akuisisi 100 persen perusahaan gabungan Origin Energy Geothermal Singapore Pte Ltd (Odan Tata Power International Pte. Ltd) membisniskan secara sepihak Izin Panas Bumi. Oleh karena itu, warga Mandailing Natal merasa dihina dan dibohongi.
Bukan hanya itu, warga juga sadar jika pengeboran gas bumi yang mereka lakukan berdampak pada rusaknya lingkungan sekitar. Pasalnya, warga meyakini jika perusahaan ini tidak memahami situasi di sekitar Gunung Sorik Marapi, baik dengan kearifan terhadap masyarakat lokal, maupunnya yang masih aktif, dan rentan atas bencana, jika salah penanganan.
Penebangan hutan untuk membuka lahan menyebabkan rusaknya habitat satwa yang ada di Gunung Sorik Marapi yang menyebabkan banyak hewan liar turun ke pemukiman warga untuk mencari makan. Mereka juga pernah membuang limbah pabrik ke sungai yang menyebabkan sungai tercemar. Udara juga semakin panas.
Bukan hanya itu, tanggal 25 Januari 2021, pipa gas milik OTP bocor dan menyemburkan gas beracun H2S. Semburan gas H2S ini menyebabkan beberapa warga di sekitar lokasi OTP harus dilarikan ke rumah sakit.
Kejadian ini terulang lagi pada 6 Maret 2022. Puluhan warga harus dilarikanke rumah sakit karena menghirup gas beracun dari pipa yang bocor akibat kelalain pihak OTP.
Tidak menutup kemungkinan kejadian serupa akan terjadi di masa mendatang. Bahkan setelah ada korban jiwa, pihak OTP seolah acuh tak acuh terhadap persoalan ini. Jika standar keamanan masih rendah, dan pertanggungjawaban yang kurang, bukankah lebih baik perusahaan ini diberhentikan? Tentunya untuk menghindari adanya korban.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar