Naposo
nauli bulung merupakan sebuah organisasi yang dimiliki oleh sebagian orang
batak. Salah satunya adalah Mandailing. Organisasi ini dijalankan oleh
pemuda-pemudi atau masyarakat yang belum pernah berumah tangga. Naposo artinya
pemuda, nauli artinya cantik, dan bulung artinya daun. Daun dalam hal ini
adalah daun yang masih hijau muda. Daun berwarna hijau muda lambang kehidupan
yang masih dalam proses berkembang atau masih menunggu saat menjadi daun yang
tua. Maksud dari menunggu di sini ialah menunggu saat untuk berumah
tangga atau langka matobang.
Dalam
wawancara pada tanggal 1 Maret 2022, Ramli Yahya yang merupakan mantan ketua
naposo nauli bulung mengungkap bahwa naposo artinya muda, nauli artinya
gadis-gadis. Berarti pengertian naposo nauli bulung adalah anak lelaki dan anak
perempuan yang masih muda dan belum berumah tangga yang masih dalam
pengawasan orang tua. Naposo nauli bulung adalah lambang kehidupan dari suatu
huta ta atau desa. Maju mundurnya suatu huta atau desa tergantung kepada naposo
nauli bulungnya.
Naposo
nauli bulung atau yang sering disebut NNB sudah ada sejak lama.
“Sepengetahuan
saya ketua nnb telah berganti sekitar 13 kali. NNB ini didirikan untuk
mengembangkan kreativitas baik dalam sosial maupun budaya di dalam masyarakat.”
Lanjutnya.
Organisasi
ini didirikan bukan tanpa tujuan. Setiap remaja yang telah bergabung ke dalam
NNB wajib menjalankan setiap tugas yang ada.
Ramli
mengungkapkan bahwa ada beberapa tugas yang harus dijalankan oleh anggota NNB
di huta atau desa masing-masing, tugas tersebut yaitu:
1.Apabila
ada horja (Pesta Pernikahan) naposo bulungnya pataonkon (mengundang)
2.
Mempersiapkan teratak dan membongkarnya kembali setelah siap pesta atau horja
3.
Mempersiapkan pelaminan
4.
Menghidangkan makanan atau mangoloi
5.
Nauli bulung mencuci piring dan mempersiapkan makanan (marsonduk)
6.
Naposo bulung, apabila ada yang meninggal membawa orang yang meninggal itu
ke pemakaman.
Tugas
lain yang harus dilakukan oleh anggota NNB adalah membantu mengerjakan semua
acara yang diadakan di desanya. Anggota NNB juga wajib hadir jika ada rapat,
dan juga wajib mengikuti acara gotong royong.
Selain
memiliki tugas, anggota NNB juga memiliki hak atau keuntungan selama mengikuti
organisasi. Menurut Ramli, hak-hak tersebut adalah:
1.
Berhak meminta untuk diajari untuk mengetahui adat ,seni dan budaya di bawah
bimbingan orang tua dan hatobangon
2.berhak
mendapat perlindungan dan pembelaan dari orang tua dan hatobangon di huta
3.
Berhak bertamasya muda-mudi atau marmayam-mayam naposo nauli bulung (ke tempat
rekreasi)
4.
Berhak mengadakan horja naposo nauli bulung yang dibina dan dibimbing, diawasi
oleh orang tua dan hatobangon di huta.
Setiap
anggota berhak untuk mendapat haknya. Bahkan yang bukan anggota atau anggota
yang tidak terlalu aktif. Hanya saja, muda-mudi yang datang tidak terlalu
banyak. Seperti yang dikatakan oleh Sri wahyuni , selaku ketua NNB di Desa
Pasar Maga sekarang, “Jika ada seorang warga yang mengadakan acara apapun itu
pasti minat anggota berkurang, bahkan tidak ada yg ikut berpartisipasi.”
Organisasi
yang merupakan bagian dari adat istiadat ini harus tetap dilestarikan. Walaupun
pada kenyataannya, minat muda-mudi yang belum masuk atau yang telah bergabung
di dalamnya mulai berkurang.
Wahyuni
mengatakan bahwa “ Seiring berjalannya waktu dan melihat zaman sekarang
kondisi/keadaan organisasi sangat pasif dibanding dgn tahun2 lalu.”
“Hal
ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kurangnya kesadaran dalam
berorganisasi, banyaknya anggota organisasi yang sedang kuliah di luar kampung
sehingga partisipasi dalam berorganisasi berkurang, dan kurangnya minat
setiap anggota dalam hal apapun dikarenakan jiwa-jiwa berorganisasi yang
semakin menurun.” Lanjutnya.
Sependapat
dengan Wahyuni, salah satu anggota NNB juga mengatakan bahwa organisasi ini
mulai pasif.
“Mungkin
itu karena pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi zaman sekarang.
Terutama sejak adanya mobile phone. Kebanyakan para pemuda dan remaja lalai dan
asik memainkan HP, yang semakin lama membuat rasa persatuan itu semakin
menipis. Mungkin juga karena sebagian dari mereka tidak peduli dan dan acuh tak
acuh pada organisasi tersebut yang membuat organisasi kita semakin pasif.” Marzuki,
1 Maret 2022.
Tentunya
setiap masalah memiliki solusi. Saat diwawancarai, Wahyuni berpendapat bahwa
solusi untuk masalah ini sederhana.
“Sederhana,
solusinya adalah kesadaran diri sendiri dari setiap anggota karena organisasi
ini harus dilanjutkan sampai kapanpun (tidak ada batas waktu yang ditetapkan)
karena organisasi ini sebagai benteng atau penopang dalam bermasyarakat.”
Sedangkan
menurut marzuki, pemuda-pemudi harus mengikuti rapat, karena dalam rapat
dijelaskan betapa pentingnya persatuan dan kesatuan dalam organisasi NNB.
“Kalau
ada rapat atau musyawarah organisasi, disitulah diterangkan betapa pentingnya
persatuan dan kesatuan dalam organisasi PNNB. Pemuda dan pemudi merupakan pagar
dari suatu desa. Dalam rapat tersebut semua anggota harus diberikan arahan,
saran, dan pengertian tentang pentingnya organisasi ini. Mudah-mudahan
selangkah demi selangkah tumbuh kesadaran dalam diri masing-masing setiap
anggota supaya aktif dalam organisasi.” tuturnya.
Organisasi
ini harus tetap ada. Selain menjadi warisan adat, organisasi naposo nauli
bulung ini juga memberikan dampak positif bagi para anggotanya, begitupun bagi
masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar