Jumat, 04 Maret 2022

Rangkaian Adat yang Diikuti Nauli Bulung saat Acara Pernikahan

Kabupaten Mandailing Natal memiliki slogan "Negeri Beradat Taat Beribadat". Slogan ini mencerminkan bahwa Mandailing merupakan daerah yang kental adat istiadatnya. Ada banyak adat istiadat di kabupaten ini. Salah satunya adat yang dilakukan saat acara-acara besar seperti pernikahan. Di kabupaten ini ada beberapa rangkaian adat yang dilakukan oleh nauli bulung (Remaja Putri). Salah satu daerah di Madina yang masih menjalankan dan melestarikan adat istiadat tersebut adalah Desa Pasar Maga.




Di Pasar Maga, setiap ada warganya yang akan menikah, baik pesta kecil ataupun besar. Mereka akan melakukan beberapa rangkaian adat. Berikut rangkaian adat yang dilakukan oleh nauli bulung Pasar Maga:

1. Pataonkon

Pataonkon merupakan hal pertama yang dilakukan bujing-bujing (Remaja Putri). Pataonkon yang dilakukan remaja putri adalah mengundang remaja putri lainnya untuk datang atau menghadiri acara marpokat. Nauli bulung yang melakukan adat ini ialah kahanggi si pemilik acara. Kahanggi yaitu kerabat yang memiliki marga sama. Biasanya, pataonkon akan dilakukan pada pagi hari, di hari yang sama dengan marpokat.

Nauli bulung yang bertugas untuk pataonkon akan memakai kain, dan mendatangi satu pe satu rumah nauli bulung yang lain sambil membawa piring yang berisi dengan Burangir (Daun Sirih), Sontang (Gambir), soda (Kapur Sirih), tembakau, pining (Pinang). Burangir pataonkon boru biasanya ditutup dengan kain warna kuning.

2. Marpokat atau Marsipulut

Adat selanjutnya adalah marpokat. Marpokat atau sering juga disebut  marsipulut merupakan adat yang dilakukan pada malam hari, sehabis sholat isya. Adat ini dilakukan sehari sebelum pesta. Misalnya, jika pernikahan digelar pada hari Kamis, maka acara marpokat akan dilakukan pada Senin malam.

Pada saat marsipulut, naposo akan mangoloi para nauli bulung (Remaja laki-laki akan melayani remaja perempuan). Para laki-laki akan menghidangkan air minum, parbatuan (Tempat cuci tangan), dan tentunya  sipulut dengan ini (Ketan yang diberi kelapa yang dicampur dengan gula merah).

Sipulut baru boleh dimakan jika boru (Pengantin perempuan) telah memakannya terlebih dahulu. Jika memakan sipulut telah selesai, makan hal selanjutnya adalah manjagit obar  atau manarimo obar (Menerima nasihat dari para orang tua). Sama halnya dengan pataonkon, manjagit obar juga dilakukan oleh kahanggi. Bedanya, manjagit obar dilakukan oleh empat orang. Dua laki-laki dan dua perempuan.

Setelah acara adat formal atau yang wajib telah selesai, biasanya para poso-poso (Remaja laki-laki) akan mangarsak boru (Hal yang dilakukan untuk menggoda pengantin perempuan).


3. Pature Pelaminan

Pature pelaminan adalah kebiasaan yang dilakukan oleh naposo nauli bulung di desa Pasar Maga. Pature pelaminan merupakan kegiatan gotong royong untuk memasang pelaminan. Biasanya, pature pelaminan akan dilakukan oleh remaja putri terlebih dahulu. Mereka akan memulai bekerja setelah solat asar. Lalu remaja laki-laki akan menyusul setelah magrib hingga pelaminan selesai didirikan.

Tidak seperti marpokat yang diikuti seluruh naposo nauli bulung, kegiatan pature pelaminan (Memasang Pelaminan) hanya dilakukan oleh naposo nauli bulung perbanjar.


4. Marzanji

Marzanji merupakan adat yang dilakukan pada hari H pernikahan. Marzanji hanya dilakukan oleh nauli bulung dan tamu perempuan yang ingin ikut. Para nauli bulung akan mengenakan kain sarung. Marzanji biasanya berlangsung mulai jam 11 hingga selesai. Acara adat ini dimulai dengan manyurdu burangir, sebagai bentuk penghormatan, jadi jika burangir sudah diberikan, maka mau tidak mau pengantin harus menerimanya. Manyurdu burangir juga dilakukan oleh kahanggi.  burangir na sadia goyak pe roa akkon na dioloon ma taon nai yang satu ini dimulai dengan sholawat atas nabi, pembacaan walamma satu dan walamma dua, pembacaan al-Jannah oleh mempelai wanita, marhaban, lalu ditutup dengan doa.Marzanji biasanya dipimpin secara bergantian, lalu diikuti oleh seluruh nauli bulung dan tamu yang hadir di dalam ruangan.



Itulah rangkaian adat yang diikuti oleh nauli bulung alias remaja putri di desa Pasar Maga. Tentunya, adat istiadat ini harus dilestarikan agar tetap ada.

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenal Kopi Mandailing Bersama SMK 1 Ulu Pungkut

Mandailing Natal — Kopi Mandailing adalah salah satu jenis kopi populer asli Indonesia. Bukan hanya di Indonesia, kopi yang menjadi primadon...